Strategi Konten Kreator Saat Audiens Sosial Media Makin Pasif
Riset Incogni yang dibahas Social Media Today akhir Juli 2026 menunjukkan makin banyak orang memposting lebih jarang, tapi pola ini sebenarnya sudah berulang sejak lama lewat prinsip 90-9-1.
Pertanyaan yang lebih relevan untuk kreator bukan sekadar apakah orang memposting lebih jarang, melainkan bagaimana menyusun strategi konten yang tetap relevan meski mayoritas audiens hanya menonton, bukan ikut memposting.
Coulava Digital & Creative menyoroti bahwa strategi konten kreator sering terlalu bergantung pada target komentar dan share, padahal mayoritas audiens memang cenderung pasif. Pertimbangkan menyusun target konten yang realistis antara konten untuk ditonton dan konten untuk dipercakapkan, bukan menyamakan semuanya. Tindakan konkretnya, pisahkan dua kategori konten dalam kalender publikasi timmu, lalu ukur masing-masing dengan metrik yang berbeda.
Masalah berulang ini muncul karena banyak strategi konten dibangun dengan asumsi audiens akan ikut aktif berpartisipasi, padahal mayoritas pengguna platform sejak dulu memang lebih banyak menonton daripada memposting. Begitu partisipasi aktif turun sedikit saja, strategi yang bergantung padanya langsung terasa goyah.
Prinsip yang bisa dipakai berulang adalah memisahkan target konten yang butuh partisipasi aktif dari target konten yang cukup dikonsumsi secara pasif, lalu mengalokasikan sumber daya sesuai porsi masing-masing. Video pendek yang terus ditonton meski jarang dikomentari adalah contoh nyata konten yang tetap bekerja secara pasif.
Prinsip lain adalah ekspektasi penghasilan kreator perlu disesuaikan dengan realitas, karena mayoritas kreator berpenghasilan jauh lebih kecil dari kisah sukses yang sering terlihat viral.
Bagian berikut menyusun prinsip di balik temuan tersebut menjadi strategi konten jangka panjang untuk kreator dan tim media sosial.
Daftar Isi
- Mengapa Perilaku Sosial Media Terus Bergeser dari Waktu ke Waktu? >
- Apa Prinsip Konten yang Tetap Dilihat Meski Posting Menurun? >
- Bagaimana Menyusun Strategi Konten yang Tidak Bergantung pada Posting Massal? >
- Seperti Apa Contoh Penerapan yang Realistis bagi Kreator Indonesia? >
- Kesalahan Apa yang Membuat Kreator Cepat Kehabisan Tenaga? >
- Checklist Apa yang Perlu Dicek Sebelum Mengubah Arah Konten? >
Mengapa Perilaku Sosial Media Terus Bergeser dari Waktu ke Waktu?
Pergeseran ini terus berulang karena mayoritas pengguna platform sejak dulu memang lebih banyak membaca dan menonton daripada memposting, sesuai prinsip 90-9-1 yang sudah dibahas sejak 2006. Begitu ada laporan baru yang menunjukkan partisipasi aktif menurun, pola lama itu sebenarnya cuma makin terlihat jelas.
Selama strategi konten masih dibangun dengan asumsi audiens akan ramai berpartisipasi, kekagetan serupa akan selalu muncul setiap kali ada riset baru. Menerima pola ini sebagai hal yang wajar justru membuat strategi lebih tahan lama.
Apa Prinsip Konten yang Tetap Dilihat Meski Posting Menurun?
Prinsip dasarnya, konten yang tetap dilihat meski posting menurun biasanya adalah konten yang bekerja secara pasif, seperti video pendek yang tetap ditonton walau jarang dikomentari. Konten semacam ini tidak butuh audiens ikut memposting ulang untuk tetap punya nilai.
3 Prinsip lainnya:
- Percakapan tertutup seperti yang dibagikan lewat grup pesan pribadi punya nilai walau tidak terlihat di metrik feed publik
- Konten yang jelas manfaatnya sejak detik pertama lebih mudah bertahan meski ditonton tanpa komentar
- Mengandalkan satu jenis format saja membuat kreator rentan saat preferensi tontonan bergeser lagi
Bagaimana Menyusun Strategi Konten yang Tidak Bergantung pada Posting Massal?
Strategi yang tidak bergantung pada posting massal dimulai dari memetakan konten mana yang memang butuh partisipasi aktif dan mana yang cukup dikonsumsi secara pasif. Pemetaan ini membantu kreator tidak memaksa semua konten punya target komentar tinggi.
Lebih lengkap untuk 4 langkah selanjutnya:
- Susun kalender dengan porsi seimbang antara dua jenis konten antara video pendek untuk ditonton dan konten yang memang dirancang memicu diskusi. Porsi ini disesuaikan ulang secara berkala sesuai data performa, bukan ditetapkan sekali untuk selamanya.
- Pisahkan metrik evaluasi untuk konten pasif dan konten partisipatif untuk konten yang sudah diklasifikasikan sebelumnya supaya evaluasinya tidak bias ke satu jenis metrik saja
- Sisipkan slot eksperimen kecil tiap bulan untuk menguji format baru tanpa mengubah keseluruhan strategi
- Libatkan audiens inti secara langsung untuk memahami format mana yang paling terasa relevan bagi mereka
Pro-tip dari Diego Pattiselanno, Co-Founder Coulava:
“Konten yang cuma bisa hidup lewat komentar dan share akan selalu rapuh, karena mayoritas audiens memang lebih nyaman menonton daripada ikut bersuara.”
Seperti Apa Contoh Penerapan yang Realistis bagi Kreator Indonesia?
Contohnya misal kreator kuliner bisa memisahkan video resep singkat yang memang ditujukan untuk ditonton berulang dari sesi tanya jawab langsung yang memang mengharapkan komentar aktif. Keduanya diukur dengan metrik berbeda, bukan disamakan.
Tim media sosial sebuah bisnis lokal bisa mulai dari mengelompokkan unggahan lama berdasarkan mana yang paling banyak ditonton ulang meski komentarnya sedikit, lalu memperbanyak format serupa. Pendekatan ini lebih realistis dibanding memaksa setiap unggahan punya target interaksi yang sama.
Kesalahan Apa yang Membuat Kreator Cepat Kehabisan Tenaga?
Kesalahan paling sering adalah menyamakan target komentar dan share untuk semua jenis konten, padahal mayoritas audiens memang lebih nyaman menonton secara pasif. Target yang tidak realistis ini yang sering membuat kreator merasa kontennya gagal padahal sebenarnya masih ditonton.
Pro-tip dari Diego Pattiselanno, Co-Founder Coulava:
“Target penghasilan kreator sebaiknya dibuat bertahap dan realistis, bukan disamakan dengan cerita sukses segelintir kreator yang paling sering dibahas orang.”
Checklist Apa yang Perlu Dicek Sebelum Mengubah Arah Konten?
Checklist sebelum mengubah arah konten bisa dimulai dari memeriksa apakah unggahan yang ditonton ulang sudah diberi porsi yang cukup dalam kalender konten. Cek juga apakah target komentar dan share masih realistis dibanding rata-rata performa tiga bulan terakhir.
Periksa juga apakah ekspektasi penghasilan tim sudah disesuaikan dengan data yang tersedia, bukan hanya mengacu pada kreator paling viral. Kalau checklist ini belum semua terpenuhi, sebaiknya tunda perubahan besar sampai datanya lebih lengkap.
Ingin Konten Social Media yang Lebih Strategis?
Coulava Digital & Creative membantu brand mengelola social media dengan strategi konten, kalender editorial, creative direction, dan evaluasi performa yang lebih terarah.
Kunjungi layanan Kelola Sosial Media Coulava dan hubungi kami untuk konsultasi gratis sekarang!
Tentang Penulis

Azkiya Musfirah adalah SEO Copywriter di Coulava
yang fokus menulis konten berbasis keyword dan semantic intent.

Artikel ini ditinjau oleh Diego Pattiselanno Co-founder Coulava, praktisi digital sejak 2013 yang fokus pada optimasi bisnis. Berpengalaman di Branding, SEO, CRM & Performance Marketing. Terhubung dengan Diego di LinkedIn
Sumber referensi: socialmediatoday.com
Catatan editorial: Artikel ini ditulis ulang sebagai konten original berbahasa Indonesia berdasarkan fakta dari sumber referensi luar negeri.
