Riset Incogni Ungkap 55% Orang Kini Memposting Lebih Jarang

Riset baru dari Incogni yang dibahas Social Media Today pada 22 Juli 2026 menemukan 55 persen responden memposting lebih jarang dibanding lima tahun lalu. Survei ini melibatkan 1.000 responden asal Amerika Serikat soal kebiasaan mereka di sosial media.

Lebih dari separuh responden juga menyebut menjaga kehadiran di sosial media terasa seperti kerja tambahan. Tim media sosial punya waktu terbatas untuk menyesuaikan strategi sebelum asumsi lama soal partisipasi audiens makin jauh dari kenyataan.

Coulava Digital & Creative menilai temuan ini sebagai sinyal bahwa strategi yang terlalu bergantung pada partisipasi aktif audiens perlu ditinjau ulang. Pertimbangkan dulu berapa persen konten kamu masih mengandalkan user generated content dibanding konten video pendek yang dikonsumsi pasif. Tindakan konkret yang bisa dilakukan adalah mulai lacak rasio interaksi pasif seperti tontonan dan simpan dibanding interaksi aktif seperti komentar dan repost dalam laporan mingguan timmu.

Data ini memperkuat pola lama yang disebut prinsip 90-9-1, yakni sekitar 90 persen pengguna hanya membaca, 9 persen sesekali mengedit, dan 1 persen aktif membuat konten. Riset Pew tahun 2019 bahkan mencatat 80 persen twit di Twitter berasal dari 10 persen pengguna paling aktif.

Meski begitu, Meta melaporkan waktu yang dihabiskan pengguna di Facebook dan Instagram justru meningkat, terutama karena makin banyak video pendek disisipkan ke feed. Artinya orang tidak sepenuhnya meninggalkan platform, tapi bergeser dari memposting aktif ke menonton secara pasif.

Laporan yang sama juga menyebut lebih dari 48 persen kreator berpenghasilan di bawah 15.000 dolar AS per tahun, jauh dari kesan mudah cuan yang sering dibayangkan pengguna baru.

Ringkasan berikut memisahkan fakta riset soal tren sosial media ini, batas kepastian, dan langkah yang bisa diambil tim media sosial minggu ini.

Daftar Isi

Apa Temuan Baru tentang Perilaku Posting di Sosial Media?

Incogni mensurvei 1.000 responden Amerika Serikat dan menemukan 55 persen memposting lebih jarang dibanding lima tahun lalu. Survei yang dirilis pada 14 Juli 2026 dan dibahas Social Media Today pada 22 Juli 2026 ini juga mencatat pergeseran ke konten hiburan dan video pendek.

Lebih dari separuh responden menyebut menjaga kehadiran di sosial media terasa seperti kerja, terutama di kalangan kreator muda yang berharap bisa menghasilkan uang dari konten. Realitas penghasilan kreator ternyata jauh lebih berat dari ekspektasi itu.

  • 55 persen responden memposting lebih jarang dibanding lima tahun lalu
  • Lebih dari separuh merasa menjaga kehadiran sosial media terasa seperti kerja
  • Pergeseran ke konten hiburan dan video pendek makin terasa

Siapa yang Paling Terdampak oleh Pergeseran Ini?

Yang paling terdampak adalah tim media sosial dan kreator yang strategi kontennya masih berasumsi audiens aktif memposting ulang dan berinteraksi secara terbuka. Batas penerapan temuan ini terbatas pada responden Amerika Serikat, bukan generalisasi global.

Kreator baru yang berharap penghasilan cepat dari konten juga menjadi pihak yang perlu menyesuaikan ekspektasi, karena riset menyebut lebih dari 48 persen kreator berpenghasilan di bawah 15.000 dolar AS per tahun.

Bagian Mana dari Temuan Ini yang Masih Belum Pasti?

Source tidak menyebut data spesifik untuk audiens di luar Amerika Serikat, termasuk Indonesia, sehingga generalisasi langsung berpotensi kurang akurat. Klaim soal algoritma yang mendorong konten emosional juga disampaikan secara umum, bukan sebagai kebijakan resmi platform mana pun.

Belum jelas juga apakah penurunan posting ini bersifat permanen atau sementara, karena data konsumsi di Facebook dan Instagram justru menunjukkan arah yang berbeda. Kedua data ini perlu dibaca bersamaan, bukan saling menggantikan.

  • Data terbatas pada responden Amerika Serikat
  • Klaim algoritma disampaikan umum, belum jadi kebijakan resmi platform
  • Belum pasti apakah tren ini permanen atau sementara

Apa Tindakan Tim Sosial Media dalam Tujuh Hari ke Depan?

Dalam tujuh hari ke depan, tim media sosial dapat meninjau ulang berapa besar strategi konten masih bergantung pada partisipasi aktif seperti repost dan komentar publik. Langkah ini murni menyesuaikan asumsi lama, bukan mengganti seluruh strategi dalam semalam.

Pertimbangkan juga menambah porsi video pendek yang bisa dikonsumsi pasif, mengingat data konsumsi di Facebook dan Instagram tercatat meningkat. Perubahan ini sebaiknya diuji dulu pada sebagian kecil konten sebelum diterapkan penuh.

  1. Tinjau ketergantungan strategi pada partisipasi aktif audiens
  2. Uji tambahan porsi video pendek pada sebagian kecil konten
  3. Sesuaikan ekspektasi target keterlibatan mingguan

Metrik Apa yang Perlu Dipantau Setelah Perubahan Strategi?

Pantau rasio interaksi pasif seperti tontonan dan simpan dibanding interaksi aktif seperti komentar dan repost dari minggu ke minggu. Perubahan rasio ini lebih informatif daripada angka reach tunggal.

Pantau juga tren jumlah kreator atau audiens yang pindah ke percakapan tertutup seperti grup pesan pribadi, karena source menyebut pergeseran ini sedang terjadi. Metrik ini bersifat indikasi awal, bukan kepastian jangka panjang.

  • Rasio interaksi pasif dibanding interaksi aktif dari minggu ke minggu
  • Tren perpindahan audiens ke percakapan tertutup
  • Perubahan performa video pendek dibanding pos statis

Ingin Konten Social Media yang Lebih Strategis?
Coulava Digital & Creative membantu brand mengelola social media dengan strategi konten, kalender editorial, creative direction, dan evaluasi performa yang lebih terarah.

Hubungi Coulava sekarang atau Kunjungi layanan Kelola Sosial Media Coulava. Yuk, konsultasikan kebutuhanmu sekarang!


Tentang Penulis

Azkiya Musfirah adalah SEO Copywriter di Coulava
yang fokus menulis konten berbasis keyword dan semantic intent.


Artikel ini ditinjau oleh Diego Pattiselanno Co-founder Coulava, praktisi digital sejak 2013 yang fokus pada optimasi bisnis. Berpengalaman di Branding, SEO, CRM & Performance Marketing. Terhubung dengan Diego di LinkedIn

Sumber referensi: socialmediatoday.com

Catatan editorial: Artikel ini ditulis ulang sebagai konten original berbahasa Indonesia berdasarkan fakta dari sumber referensi luar negeri.

Similar Posts