Program Anak Kini Terinspirasi Media Sosial, Apa Artinya bagi Konten Brand?
Media sosial semakin memengaruhi cara anak menonton video dan menikmati hiburan. Laporan Glance yang dipaparkan dalam acara MIPJUNIOR 2026 menunjukkan bahwa program anak mulai mengambil ide dari kreator digital dan format video yang populer di platform seperti YouTube dan TikTok.
Televisi masih menjadi layar utama bagi anak-anak di Inggris, tetapi penggunaan ponsel meningkat seiring bertambahnya usia. Platform video juga mengambil porsi besar dari waktu yang dihabiskan anak untuk menonton.
Menurut Coulava Digital & Creative, brand dan pembuat konten perlu memahami kebiasaan menonton audiens, tetapi tetap menjaga kualitas cerita dan memastikan konten sesuai untuk usia penontonnya.
Daftar Isi
- Bagaimana Kebiasaan Menonton Anak Berubah? >
- Mengapa Program Anak Mulai Mengikuti Gaya Media Sosial? >
- Bagaimana Acara Olahraga Bisa Menarik Perhatian Anak? >
- Apakah Cerita dan Tema Lama Masih Disukai Anak? >
- Apa Pelajaran untuk Brand yang Membuat Konten? >
- Apa yang Bisa Dicoba oleh Brand dan Pembuat Konten? >
- Apa yang Bisa Dipelajari Brand dari Tren Ini? >
Bagaimana Kebiasaan Menonton Anak Berubah?
Menurut laporan Advanced Television pada 12 Oktober 2026, Glance memaparkan data tentang kebiasaan menonton di sejumlah negara. Presentasi tersebut membahas 11 program dari 12 wilayah yang menarik perhatian anak dan beberapa program yang sedang disiapkan.
Di Inggris, anak usia 4–6 tahun rata-rata menonton selama dua jam 15 menit per hari, sedangkan anak usia 13–15 tahun menonton selama dua jam 31 menit. Televisi masih menjadi layar utama, tetapi anak yang lebih besar lebih banyak menggunakan ponsel.
- Ponsel menyumbang 34% waktu layar anak usia 13–15 tahun.
- Pada usia 10–12 tahun, porsinya 18%, sedangkan usia 7–9 tahun sebesar 7%.
- YouTube mengambil hampir separuh waktu layar anak usia 10–12 tahun. TikTok menjadi pesaing utama YouTube pada kelompok usia yang lebih tua.
Data ini menunjukkan bahwa kebiasaan menonton anak tidak selalu sama di setiap kelompok usia. Karena itu, brand perlu menyesuaikan format dan pendekatan konten dengan audiens yang ingin dijangkau.
Mengapa Program Anak Mulai Mengikuti Gaya Media Sosial?
Glance menyebut tren pertama sebagai “Build for Scrollers”, yaitu membuat konten yang cocok dengan kebiasaan orang menggulir video di media sosial. Program anak mulai mengambil ide dari cara kreator digital bercerita dan dari format yang akrab bagi pengguna platform video.
- Video vertikal mulai dicoba sebagai pilihan format.
- Cara kreator digital bercerita ikut memengaruhi program anak.
- Kerja sama dengan kreator bisa membantu menjangkau penonton mereka di platform lain.
Meski begitu, konten tetap perlu memiliki cerita yang jelas dan sesuai dengan usia anak yang menonton. Format yang menarik perhatian saja belum cukup jika isi ceritanya tidak relevan atau sulit dipahami.
Bagaimana Acara Olahraga Bisa Menarik Perhatian Anak?
Tren kedua, “Beyond the Game”, membahas bagaimana acara besar bisa menarik anak untuk menonton. Piala Dunia FIFA 2026 menjadi salah satu contoh. Di empat dari lima pasar besar Eropa yang ditinjau, Piala Dunia menjadi program dengan jumlah penonton yang tinggi dibandingkan jenis program lain.
- Di Inggris, 88,7% anak usia 4–15 tahun menonton semifinal Inggris melawan Argentina, atau sekitar 1,5 juta anak.
- Di Amerika Serikat, final turnamen ditonton oleh 2,8 juta anak usia 2–11 tahun.
Selain tayangan pertandingan, tema sepak bola juga bisa dikembangkan menjadi animasi, serial, atau program hiburan lain.
Bagi brand, momen olahraga dapat menjadi inspirasi konten jika memang berkaitan dengan produk, audiens, dan pesan yang ingin disampaikan. Pendekatan ini juga bisa dikembangkan menjadi cerita yang relevan tanpa harus selalu membahas pertandingan secara langsung.
Apakah Cerita dan Tema Lama Masih Disukai Anak?
Tren ketiga, “Enduring Appeal”, menunjukkan bahwa tema yang sudah lama disukai anak masih menarik. Animasi tetap menjadi genre favorit. Gaya anime juga memengaruhi produksi di luar Jepang, sementara musik dan karakter hewan tetap memiliki tempat.
- Animasi masih menjadi pilihan yang populer.
- Gaya anime mulai menginspirasi program dari negara lain.
- Musik, olahraga, dan karakter hewan bisa menjadi bahan cerita.
Artinya, pembuat konten tidak harus selalu mencari ide yang benar-benar baru. Tema yang akrab tetap bisa menarik jika disajikan dengan cara yang sesuai dengan kebiasaan menonton sekarang.
Apa Pelajaran untuk Brand yang Membuat Konten?
Menurut Coulava, brand perlu memahami platform tempat audiens menonton sekaligus isi konten yang mereka sukai. Video vertikal, kerja sama dengan kreator, dan acara besar bisa menjadi cara untuk menarik perhatian, tetapi isi konten tetap harus relevan dan berkualitas.
Brand juga perlu memastikan bahwa konten yang ditujukan kepada anak sesuai dengan usia mereka, memiliki pesan yang jelas, dan dibuat dengan cara yang bertanggung jawab.
Dengan memahami kebiasaan audiens, brand dapat menentukan format, gaya penyampaian, dan topik yang paling sesuai. Strategi konten pun tidak hanya berfokus pada jumlah penayangan, tetapi juga pada manfaat dan pengalaman yang diberikan kepada penonton.
Apa yang Bisa Dicoba oleh Brand dan Pembuat Konten?
- Pelajari kebiasaan menonton audiens berdasarkan usia dan platform.
- Coba video vertikal atau video pendek jika sesuai dengan tujuan konten.
- Gunakan tema yang dekat dengan anak, seperti musik, olahraga, persahabatan, atau hewan.
- Hubungkan konten dengan acara besar jika memang relevan dengan brand.
- Pilih kreator yang sesuai dengan audiens dan pesan brand.
- Pastikan konten anak sesuai usia dan aman untuk ditonton.
Langkah-langkah tersebut dapat menjadi titik awal untuk mengembangkan konten yang lebih sesuai dengan audiens. Brand tetap perlu mengevaluasi respons penonton agar strategi yang digunakan dapat diperbaiki secara berkala.
Apa yang Bisa Dipelajari Brand dari Tren Ini?
Laporan Glance menunjukkan bahwa kebiasaan menonton anak berbeda berdasarkan usia dan semakin dipengaruhi platform video serta kreator digital. Program dapat mengambil cara bercerita dari media sosial, memakai momen besar sebagai ide, dan tetap mengangkat tema yang disukai anak.
Bagi brand, hal terpenting bukan sekadar mengikuti tren. Brand perlu memahami di mana audiens menonton, bagaimana mereka menemukan konten, dan alasan sebuah cerita menarik bagi mereka.
Dengan begitu, strategi konten dapat mengikuti perubahan platform tanpa kehilangan arah komunikasi dan identitas brand.
Ingin Membuat Konten yang Sesuai dengan Audiens Brand?
Coulava Digital & Creative membantu brand menyusun strategi konten dan digital marketing sesuai kebutuhan audiens dan perkembangan platform. Hubungi jasa kelola sosial media Coulava untuk mendiskusikan ide konten bagi brand kamu.
Lihat juga layanan Coulava yang lainnya yang mungkin cocok untuk kamu, atau lihat gallery project kami. Hubungi Coulava sekarang!
Tentang Penulis

Azkiya Musfirah adalah SEO Copywriter di Coulava
yang fokus menulis konten berbasis keyword dan semantic intent.

Artikel ini ditinjau oleh Diego Pattiselanno Co-founder Coulava, praktisi digital sejak 2013 yang fokus pada optimasi bisnis. Berpengalaman di Branding, SEO, CRM & Performance Marketing. Terhubung dengan Diego di LinkedIn
Sumber referensi: advanced-television.com
Catatan editorial: Artikel ini ditulis ulang sebagai konten original berbahasa Indonesia berdasarkan fakta dari sumber referensi luar negeri.
