Canva Salip Claude, Gemini, dan Grok jadi Platform AI Kedua Paling Banyak Dikunjungi
Canva resmi menyalip Claude, Gemini, Grok, DeepSeek, dan Perplexity untuk menjadi platform AI kedua paling banyak dikunjungi di dunia setelah ChatGPT, menurut laporan terbaru dari analytics platform OneLittleWeb.
Laporan yang menganalisis 9.531 tools AI di lebih dari 170 kategori ini mencatat Canva berhasil mengumpulkan 10,5 miliar kunjungan website sepanjang Mei 2025 hingga April 2026. Angka ini mengungguli Gemini, DeepSeek, Claude milik Anthropic, Grok, dan Perplexity. Hanya ChatGPT yang masih berada di atasnya, dengan lebih dari enam kali lipat traffic Canva.
Pencapaian ini menegaskan posisi Canva sebagai salah satu pemenang terbesar dalam gelombang adopsi AI, dengan strategi yang cukup berbeda dari kebanyakan pemain lain di pasar chatbot yang semakin ramai.
Menurut Coulava Digital & Creative, capaian Canva ini membuktikan bahwa integrasi AI ke dalam produk yang sudah familiar bagi penggunanya bisa jauh lebih efektif dibanding membangun chatbot generik dari nol.
Artikel ini akan membahas bagaimana Canva bisa menyalip para pesaingnya, seberapa ketat persaingan platform AI saat ini, hingga insight yang bisa diambil brand lain dari capaian ini.
Daftar Isi
- Apa yang Diumumkan dalam Laporan OneLittleWeb? >
- Bagaimana Canva Bisa Menyalip Claude, Gemini, dan Grok? >
- Apa yang Membuat Persaingan Platform AI Semakin Ketat? >
- Bagaimana Pergeseran Preferensi Pengguna AI Saat Ini? >
- Apa Insight Coulava dari Capaian Canva Ini? >
- Apa Kesimpulan Utamanya? >
Apa yang Diumumkan dalam Laporan OneLittleWeb?
OneLittleWeb mengumumkan Canva berhasil mencatat 10,5 miliar kunjungan website sepanjang Mei 2025 hingga April 2026, menempatkannya di posisi kedua platform AI paling banyak dikunjungi secara global, hanya di bawah ChatGPT.
Laporan ini menganalisis 9.531 tools AI di lebih dari 170 kategori, dengan total estimasi 144,5 miliar kunjungan website selama periode 12 bulan tersebut, atau tumbuh 40,1% dibanding tahun sebelumnya.
| Platform | Total Kunjungan Website (Mei 2025 – April 2026) |
|---|---|
| ChatGPT (OpenAI) | 64,7 miliar |
| Canva | 10,5 miliar |
| Gemini (Google) | 6,9 miliar |
| DeepSeek | 3,8 miliar |
| Claude (Anthropic) | 3,4 miliar |
| Grok (xAI) | 2,5 miliar |
| Perplexity | 2,3 miliar |
Bagaimana Canva Bisa Menyalip Claude, Gemini, dan Grok?
Canva menyalip para pesaingnya dengan strategi mengintegrasikan AI ke dalam platform desain yang sudah populer, bukan bersaing langsung di pasar chatbot yang makin ramai.
Canva bahkan mencatat penguasaan 96,28% dari seluruh traffic di kategori AI design generator, melampaui gabungan traffic DeepSeek, Claude, dan Grok. Pertumbuhan tahunan Canva memang tergolong moderat di angka 15,5%, tetapi angka ini berasal dari basis pengguna yang sudah sangat besar, sehingga tetap menambah 1,4 miliar kunjungan baru dalam setahun.
Sepanjang tahun terakhir, Canva meluncurkan serangkaian produk berbasis AI, termasuk:
- Canva AI 2.0, dengan conversational design tools dan automated workflows
- Integrasi dengan berbagai aplikasi workplace lain
- Canva Code 2.0, fitur untuk vibe coding website yang tidak terlihat seperti hasil vibe coding
Sebelumnya, firma modal ventura Andreessen Horowitz juga sempat menempatkan Canva di jajaran consumer AI web apps paling banyak digunakan di dunia, mengungguli Claude, Grok, dan DeepSeek.
Apa yang Membuat Persaingan Platform AI Semakin Ketat?
Persaingan platform AI semakin ketat karena traffic AI secara keseluruhan tumbuh 40,1% dalam setahun, tetapi hampir 90% dari traffic tersebut hanya terkonsentrasi pada 100 tools teratas.
ChatGPT sendiri masih mendominasi dengan 44,76% dari seluruh traffic AI tools, menambah 26,6 miliar kunjungan baru dalam setahun terakhir. Namun, sejumlah pesaingnya justru tumbuh dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi secara persentase.
| Platform | Pertumbuhan Traffic Tahunan |
|---|---|
| Gemini (Google) | 450% (tambahan 5,6 miliar kunjungan) |
| Grok (xAI) | 731% (tercepat di 10 besar) |
| Claude (Anthropic) | 250% |
| Canva | 15,5% (tambahan 1,4 miliar kunjungan) |
Bagaimana Pergeseran Preferensi Pengguna AI Saat Ini?
Kategori chatbot menyumbang hampir 60% dari seluruh traffic AI tools setelah tumbuh lebih dari 90% dalam setahun, menandakan pengguna semakin nyaman berinteraksi lewat percakapan dibanding format tools tradisional.
Sebaliknya, tools produktivitas dan edukasi yang berdiri sendiri justru kehilangan momentum. Google Translate mencatat penurunan terbesar dengan kehilangan 1,5 miliar kunjungan tahunan, sementara Chegg, Quizlet, QuillBot, dan Grammarly juga mengalami penurunan traffic yang cukup tajam.
Pengguna tampaknya mulai mengonsolidasikan kebutuhan menulis, menerjemahkan, dan belajar ke dalam satu platform AI conversational seperti ChatGPT, Gemini, atau Claude, dibanding berpindah-pindah ke tools terpisah untuk setiap kebutuhan.
Apa Insight Coulava dari Capaian Canva Ini?
Capaian ini menunjukkan bahwa memenangkan pasar AI tidak selalu berarti harus membangun chatbot baru yang bersaing head-to-head dengan ChatGPT. Canva tidak perlu meyakinkan audiens baru untuk mencoba tools yang benar-benar asing, karena basis penggunanya sudah sangat besar sejak sebelum era AI generatif berkembang pesat seperti sekarang.
Pendekatan Canva juga mengingatkan bahwa integrasi AI paling efektif biasanya muncul dari kebutuhan nyata pengguna, bukan sekadar mengikuti tren fitur AI yang sedang ramai dibicarakan.
Menurut Coulava, brand yang mempertimbangkan integrasi AI sebaiknya mulai dari mengidentifikasi titik-titik dalam produk mereka yang paling sering menimbulkan friksi bagi pengguna, lalu mengevaluasi apakah AI bisa menyederhanakan proses tersebut, dibanding langsung membangun produk AI yang sepenuhnya baru.
Cara ini cenderung lebih berkelanjutan dibanding menambahkan fitur AI hanya demi mengikuti kompetitor, dan peluang seperti ini sebenarnya terbuka untuk banyak industri asalkan brand jeli melihat celah di mana AI bisa memperkuat pengalaman yang sudah ada.
Apa Kesimpulan Utamanya?
Canva berhasil menempati posisi kedua sebagai platform AI paling banyak dikunjungi di dunia dengan strategi mengintegrasikan AI ke dalam produk desain yang sudah populer, mengungguli sejumlah chatbot besar seperti Claude, Gemini, dan Grok.
Capaian ini menjadi bukti bahwa persaingan AI tidak melulu soal siapa yang membangun chatbot paling canggih, melainkan juga soal siapa yang paling berhasil menghadirkan AI di tempat audiens sudah berada. Brand lain bisa mengambil pelajaran dari pendekatan ini untuk merancang strategi integrasi AI mereka sendiri.
Ingin Strategi Digital Marketing yang Adaptif dengan Tren AI?
Coulava Digital & Creative membantu brand menyusun strategi digital marketing yang lebih terstruktur, mulai dari riset audiens, konten, hingga optimasi visibilitas di era AI.
Kunjungi layanan digital marketing Coulava dan hubungi kami sekarang!
Tentang Penulis

Azkiya Musfirah adalah SEO Copywriter di Coulava
yang fokus menulis konten berbasis keyword dan semantic intent.

Artikel ini ditinjau oleh Diego Pattiselanno Co-founder Coulava, praktisi digital sejak 2013 yang fokus pada optimasi bisnis. Berpengalaman di Branding, SEO, CRM & Performance Marketing. Terhubung dengan Diego di LinkedIn
Sumber referensi: www.smartcompany.com
Catatan editorial: Artikel ini ditulis ulang sebagai konten original berbahasa Indonesia berdasarkan fakta dari sumber referensi luar negeri.
