Bagaimana Cara Menggunakan User-Generated Content untuk Iklan?
UGC ads strategy adalah strategi menggunakan user-generated content (UGC) sebagai materi kreatif dalam paid advertising. Kontennya dapat berupa video review, testimonial, unboxing, tutorial, pengalaman menggunakan produk, atau konten dari creator yang dibuat dengan gaya natural.
UGC menjadi menarik untuk advertising karena formatnya dapat terasa lebih dekat dengan konten yang biasa dikonsumsi audience di social media. Menurut Shopify, UGC ads menggunakan foto, video, review, atau testimonial dari customer maupun creator yang kemudian dipromosikan sebagai iklan.
“UGC ads adalah pendekatan yang memberi ruang lebih besar bagi perspektif pengguna dalam advertising karena audience dapat melihat produk melalui pengalaman yang terasa lebih dekat dengan keseharian mereka. Karena itu, brand perlu memberi ruang bagi creator untuk mempertahankan gaya komunikasinya. Brief tetap dibutuhkan agar pesan utama campaign tidak hilang. Namun, terlalu banyak mengatur dapat membuat konten kehilangan karakter UGC. Strategi UGC juga perlu memikirkan bagaimana satu aset dapat dikembangkan menjadi beberapa variasi iklan. ”
– Diego F Pattiselanno
Co-Founder Coulava Digital & Creative
Di dalam artikel ini, kamu akan menemukan penjelasan lebih rinci tentang user-generated content yang digunakan sebagai iklan, apa saja jenis UGC yang cocok, bagaimana membuat hook yang engage, bagaimana membuat tetap autentik, semua akan kita breakdown di sini.
Daftar Isi
- Apa Itu UGC Ads? >
- Kenapa UGC Cocok untuk Advertising? >
- Apa Saja Jenis UGC yang Bisa Digunakan sebagai Ads? >
- Bagaimana Cara Membuat UGC Ads Strategy? >
- Bagaimana Menentukan Creator untuk UGC Ads? >
- Bagaimana Membuat Hook UGC Ads? >
- Bagaimana Menjaga UGC Tetap Autentik? >
- Bagaimana Mengubah Satu UGC Menjadi Beberapa Ads? >
- Bagaimana Mengukur Performa UGC Ads? >
- Apa Kesalahan yang Sering Terjadi dalam UGC Ads? >
- Kesimpulan >
Apa Itu UGC Ads?
UGC ads adalah iklan yang menggunakan konten bergaya user-generated content untuk mempromosikan produk atau layanan.
Kontennya dapat berasal dari customer yang memang menggunakan produk, atau dari UGC creator yang membuat konten berdasarkan brief dari brand. Formatnya dapat berupa video pendek, testimonial, product demonstration, review, hingga before-and-after dalam konteks yang sesuai dengan kebijakan platform.
Yang membedakan UGC ads dari iklan tradisional terutama terletak pada cara pesan disampaikan. Konten biasanya terasa lebih conversational dan menampilkan pengalaman seseorang menggunakan produk.
Kenapa UGC Cocok untuk Advertising?
UGC dapat memberikan social proof sekaligus perspektif pengguna dalam sebuah iklan. Audience dapat melihat bagaimana produk digunakan atau bagaimana seseorang menjelaskan pengalamannya.
Menurut Shopify dalam pembahasan UGC campaign 2026, brand dapat memanfaatkan konten UGC yang sudah menunjukkan performa baik secara organik untuk kemudian digunakan sebagai paid advertising.
Pendekatan ini juga membantu brand memiliki lebih banyak variasi creative. Daripada terus menggunakan visual yang dibuat dengan konsep serupa, brand dapat menghadirkan perspektif dari beberapa customer atau creator.
Namun, performa UGC tetap bergantung pada kualitas pesan, relevansi audience, creative, offer, dan campaign setup. UGC bukan jaminan otomatis bahwa sebuah iklan akan menghasilkan conversion tinggi.
Apa Saja Jenis UGC yang Bisa Digunakan sebagai Ads?
UGC ads dapat menggunakan berbagai format konten sesuai dengan produk, karakter audience, dan tujuan campaign. Setiap format memiliki cara berbeda dalam menunjukkan pengalaman pengguna atau menjelaskan value produk.
Beberapa jenis UGC yang bisa digunakan antara lain:
- Testimonial: menampilkan pengalaman seseorang setelah menggunakan produk atau layanan.
- Product demonstration: memperlihatkan cara menggunakan produk atau bagaimana produk bekerja.
- Unboxing: menunjukkan pengalaman ketika membuka dan mencoba produk untuk pertama kali.
- Review: memberikan penilaian atau pendapat mengenai produk berdasarkan pengalaman penggunaan.
- Problem-solution content: dimulai dari masalah yang relatable, kemudian menunjukkan produk sebagai salah satu solusi.
- Tutorial: creator menjelaskan cara menggunakan produk untuk kebutuhan tertentu.
Format tersebut dapat dikembangkan sesuai dengan karakter brand. Untuk produk yang membutuhkan demonstrasi, misalnya, product demonstration atau tutorial dapat lebih relevan. Sementara produk yang membutuhkan kepercayaan dari calon pelanggan dapat menggunakan testimonial atau review sebagai pendekatan utama.
Satu campaign juga dapat menggunakan beberapa format sekaligus agar brand memiliki variasi creative untuk diuji dan tidak bergantung pada satu jenis UGC.
Bagaimana Cara Membuat UGC Ads Strategy?
Strategi UGC sebaiknya dimulai dari objective campaign, bukan dari format videonya.
Tentukan terlebih dahulu apakah iklan bertujuan meningkatkan awareness, traffic, leads, atau conversion. Setelah itu, tentukan pesan yang ingin disampaikan dan tipe UGC yang paling sesuai.
Alurnya dapat dibuat seperti berikut:
Objective → target audience → key message → UGC format → creator/customer → hook → CTA → testing.
Dengan alur tersebut, UGC tetap memiliki arah strategis meskipun gaya penyampaiannya terlihat natural.
Bagaimana Menentukan Creator untuk UGC Ads?
Creator yang tepat tidak selalu memiliki jumlah followers terbesar. Untuk UGC ads, yang lebih penting adalah kemampuan membuat konten yang relevan dengan target audience dan karakter produk.
Perhatikan niche, gaya komunikasi, kualitas storytelling, kemampuan menjelaskan produk, dan kesesuaian dengan brand.
Creator juga perlu memahami brief dengan jelas. Berikan informasi mengenai target audience, key message, mandatory information, dan CTA. Berikan ruang bagi creator untuk menentukan cara penyampaiannya agar konten tetap terasa natural.
Pro Tip dari Diego Pattiselanno, Co-Founder Coulava:
“Saat membuat brief UGC, tentukan bagian yang wajib disampaikan dan bagian yang boleh dikembangkan creator. Dengan begitu, brand tetap memiliki kontrol terhadap pesan tanpa membuat konten terasa terlalu scripted.”
Bagaimana Membuat Hook UGC Ads?
Hook menentukan apakah audience akan berhenti scrolling dan memperhatikan iklan. Karena itu, bagian awal video perlu langsung memberikan konteks.
Hook dapat dimulai dari masalah, pertanyaan, pengalaman, pernyataan yang relatable, atau demonstrasi produk. Contohnya:
Hook sebaiknya disesuaikan dengan audience. Pernyataan yang menarik untuk satu kelompok belum tentu relevan untuk kelompok lainnya.
Bagaimana Menjaga UGC Tetap Autentik?
UGC ads perlu mempertahankan gaya komunikasi yang natural dan relatable. Konten yang terlalu scripted atau terlalu menyerupai iklan konvensional dapat mengurangi karakter UGC.
Namun, natural bukan berarti tanpa arahan. Brand tetap perlu memberikan brief, informasi produk, key message, dan batasan yang diperlukan.
Satu hal yang sangat penting adalah usage rights. Konten milik customer atau creator tidak otomatis dapat digunakan untuk iklan hanya karena mereka mengunggahnya ke social media. Shopify menyarankan brand meminta izin terlebih dahulu dan menjelaskan bagaimana UGC tersebut akan digunakan.
Bagaimana Mengubah Satu UGC Menjadi Beberapa Ads?
Satu konten UGC dapat dikembangkan menjadi beberapa creative variation. Misalnya, video yang sama dapat memiliki beberapa opening hook, headline, CTA, atau potongan video yang berbeda.
Contohnya:
| Variasi | Fokus |
|---|---|
| UGC A | Problem-focused hook |
| UGC B | Product demonstration |
| UGC C | Testimonial |
| UGC D | Benefit-focused |
| UGC E | Offer-focused |
Pendekatan ini membantu brand menguji angle dan messaging tanpa harus selalu memproduksi video dari awal.
Bagaimana Mengukur Performa UGC Ads?
Performa UGC ads perlu dinilai berdasarkan objective campaign. Untuk video awareness, watch time dan video engagement dapat memberikan insight mengenai kemampuan creative mempertahankan perhatian.
Jika objective-nya traffic, perhatikan CTR dan landing page views. Untuk campaign conversion, conversion rate, CPA, dan ROAS menjadi metrik yang lebih relevan. Jangan hanya membandingkan creator. Perhatikan juga hook, angle, format, audience, dan offer karena faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi hasil.
Pro Tip dari Diego Pattiselanno, Co-Founder Coulava:
“Ketika satu UGC menghasilkan performa bagus, jangan langsung menganggap creatornya sebagai satu-satunya alasan. Bedah bagian yang membuatnya bekerja, terutama hook, angle, dan cara produk ditampilkan.”
Apa Kesalahan yang Sering Terjadi dalam UGC Ads?
Kesalahan pertama adalah membuat UGC terlalu scripted. Creator akhirnya hanya membaca kalimat dari brand sehingga konten kehilangan gaya personal.
Kesalahan lainnya adalah memilih creator hanya berdasarkan jumlah followers. Untuk paid advertising, relevansi audience dan kualitas creative sering kali lebih penting daripada vanity metrics.
Brand juga perlu menghindari penggunaan satu creative terlalu lama. Jika audience sudah terlalu sering melihat materi yang sama, creative fatigue dapat muncul. Mengembangkan variasi hook dan angle dapat membantu menjaga creative tetap fresh.
Kesimpulan
UGC ads strategy menggunakan konten dari customer atau creator sebagai materi kreatif untuk paid advertising. Strategi ini dapat membantu brand menghadirkan perspektif pengguna, social proof, dan variasi creative yang lebih dekat dengan kebiasaan audience di social media.
Kunci UGC ads terletak pada pemilihan creator, brief yang tepat, hook, authenticity, usage rights, creative variation, dan testing. Dengan strategi yang terarah, UGC dapat menjadi bagian dari creative strategy yang mendukung berbagai tahap advertising funnel.
Butuh bantuan dalam menghasilkan konten ads bermodel UGC?
Kalau kamu ingin mengembangkan UGC ads dan creative strategy untuk campaign Meta Ads atau platform lainnya, Coulava Digital & Creative dapat membantu menyusun konsep, creative direction, hingga strategi pengujiannya.
Kunjungi layanan jasa digital marketing dan jasa kelola sosial media Coulava atau lihat juga layanan kami yang lainnya.
Hubungi Coulava untuk konsultasi gratis sekarang!
Tentang Penulis

Azkiya Musfirah adalah SEO Copywriter di Coulava
yang fokus menulis konten berbasis keyword dan semantic intent.

Artikel ini ditinjau oleh Diego Pattiselanno Co-founder Coulava, praktisi digital sejak 2013 yang fokus pada optimasi bisnis. Berpengalaman di Branding, SEO, CRM & Performance Marketing. Terhubung dengan Diego di LinkedIn
