Strategist Agensi Optimistis di Tengah Tantangan AI

Sebanyak 66% strategist agensi sepakat bahwa ada alasan jelas untuk optimistis, menurut laporan Future of Strategy 2026 dari WARC. Temuan ini dikutip Marketing Dive pada 2 November 2026.

Optimisme itu muncul setelah tahun yang berat bagi industri iklan. Emarketer mencatat hilangnya 6.900 pekerjaan antara Agustus 2025 dan Agustus 2026.

Kami di Coulava Digital & Creative membaca temuan ini sebagai pengingat bahwa insight manusia tetap perlu dikaitkan dengan tujuan bisnis. Pertimbangannya, brief yang dibantu AI akan terlihat mirip jika tidak ada sudut pandang yang jelas. Contoh yang bisa dilakukan: tulis satu hipotesis dampak bisnis di setiap brief sebelum pekerjaan produksi dimulai.

Marketing Dive menyebut tahun ini ditandai konsolidasi agensi di holding company besar dan pemangkasan karyawan secara luas. Salah satu faktor paling menonjol adalah masuknya AI ke hampir semua disiplin pemasaran, dari analisis data sampai pembuatan kampanye.

Survei WARC melibatkan 489 strategist di sisi agensi dan dilakukan pada Agustus. Lena Roland, content director di WARC Strategy, mengatakan masalahnya belum selesai, tetapi arah situasi mungkin mulai berubah.

Berikut rangkuman temuan WARC dan komentar para narasumber di Marketing Dive.

Daftar Isi

Seberapa Optimis Strategist Agensi terhadap AI?

Menurut WARC, 66% strategist di sisi agensi setuju bahwa ada alasan jelas untuk optimistis. Sebanyak 65% dari 489 responden mengatakan AI memberi mereka waktu untuk pekerjaan strategis yang lebih mendalam.

Sementara itu, 55% percaya teknologi ini akan mengarahkan strategi kembali ke perspektif manusia. Roland menyebut kemanusiaan sebagai keunggulan kompetitif di era AI.

Roland menyebut kondisi ini sebagai tanda bahwa AI bukan hanya ancaman bagi strategist. Dalam laporan yang sama, optimisme itu tetap datang bersama kesadaran akan besarnya perubahan yang sedang berjalan.

Mengapa Klien Kembali Melirik Strategi?

Roland menjelaskan bahwa klien melihat kebutuhan akan pemikiran yang berakar pada insight manusia. Pengaruh strategi terhadap klien naik menjadi 50%, dari 41% pada 2025, menurut WARC.

Ia menilai angka itu menunjukkan klien makin menghargai strategi ketika pertumbuhan bisnis lebih sulit dicapai. Menurutnya, AI membantu memahami dunia saat ini, sedangkan strategist membantu membayangkan apa yang bisa terjadi.

Roland juga menilai strategist berada pada posisi terbaik sebagai penjaga realitas karena mereka mendasarkan ide pada insight manusia. Menurutnya, AI tidak dapat menggantikan penilaian dan intuisi manusia, dan tidak dapat mengajukan pertanyaan yang benar-benar layak ditanyakan.

Apa Kekhawatiran Jangka Panjang bagi Strategist?

Optimisme jangka pendek tidak menghapus rasa waspada soal jangka panjang. Sebanyak 56% strategist dalam studi WARC, naik dari 41% tahun lalu, khawatir AI akan cukup maju untuk menggantikan mereka.

Roland menggambarkan para strategist sebagai pihak yang optimistis tetapi realistis terhadap skala perubahan. Ia menyebut mereka yang berkembang adalah yang belajar memakai AI sambil tetap membawa pemikiran kritis dan pemahaman komersial.

Angka kekhawatiran ini muncul meski sentimen jangka pendek membaik, menurut data WARC yang dikutip Marketing Dive. Artinya, rasa percaya diri saat ini belum otomatis menjawab ketidakpastian soal masa depan peran strategist.

Bisakah Account Executive Memakai AI untuk Strategi?

Michael Farmer dari Farmer & Company menyebut alat yang sama juga bisa dipakai account executive senior. Menurutnya, saat ini agensi belum banyak membahas cara AI membuat pekerjaan strategis untuk klien lebih baik.

Farmer menjelaskan bahwa peran account executive menyempit selama puluhan tahun, antara lain lewat programmatic negotiating dan pemisahan media dari kreatif. Ia juga menyebut AI kini sering bisa menulis brief sebaik strategist, atau bahkan lebih baik.

Farmer menekankan bahwa langkah itu akan menaikkan account executive ke peran mitra bisnis, bukan sekadar pengatur lalu lintas pekerjaan. Ia menambahkan bahwa AI adalah peluang besar, tetapi orang perlu berpikir sebagai strategist untuk melihat potensi yang belum tergarap.

Bukti Dampak Bisnis dan Model Nilai Baru

Dalam survei WARC, 80% strategist mengatakan mereka perlu mengembangkan bukti yang lebih kuat tentang dampak bisnis. Sebanyak 57% menyatakan perlu proposisi nilai dan model kompensasi baru.

Roland melihat peluang bagi strategist untuk menjadi mitra pertumbuhan, bukan sekadar fungsi pendukung. Catatan editor Marketing Dive menyebut Informa, yang memiliki saham pengendali di penerbitnya, juga berinvestasi di WARC.

Roland menutup dengan pandangan bahwa bisnis akan selalu membutuhkan orang yang bisa mendiagnosis dan memecahkan masalah. Strategist terbaik, katanya, akan memakai AI untuk melampaui hal yang jelas dan menghubungkan kreativitas dengan hasil komersial.

Ingin Strategi Digital Marketing dan Social Media yang Lebih Terarah?
Coulava Digital & Creative membantu brand menyusun strategi digital marketing yang lebih terstruktur, mulai dari riset audiens, konten, campaign, hingga optimasi performa lintas channel. Kunjungi layanan Digital Marketing Coulava dan jasa kelola sosial media Coulava untuk informasi lebih lanjut.

Kunjungi juga layanan Coulava yang lainnya, atau lihat hasil kerja kami melalui galeri Coulava. Hubungi kami untuk konsultasi gratis!


Tentang Penulis

Azkiya Musfirah adalah SEO Copywriter di Coulava
yang fokus menulis konten berbasis keyword dan semantic intent.


Artikel ini ditinjau oleh Diego Pattiselanno Co-founder Coulava, praktisi digital sejak 2013 yang fokus pada optimasi bisnis. Berpengalaman di Branding, SEO, CRM & Performance Marketing. Terhubung dengan Diego di LinkedIn

Sumber referensi: marketingdive.com

Catatan editorial: Artikel ini ditulis ulang sebagai konten original berbahasa Indonesia berdasarkan fakta dari sumber referensi luar negeri.

Similar Posts