Humanized Brand & Authentic Marketing: Strategi Branding Terbaru 2026

Ada sesuatu yang berubah dalam cara brand berbicara kepada audiens di internet. Kalau beberapa tahun lalu banyak brand menggunakan bahasa yang sangat “marketing”, sekarang kita mulai melihat tone yang berbeda. Komunikasi brand menjadi lebih santai, lebih jujur, dan kadang bahkan sedikit- banyak menunjukkan ketidaksempurnaan.

Di berbagai platform sosial media, brand tidak lagi hanya mempublikasikan konten promosi. Mereka membagikan cerita, merespon komentar dengan gaya yang lebih personal, dan menunjukkan sisi manusia dari bisnis mereka.

Perubahan ini bukan kebetulan. Ini adalah bagian dari marketing changes yang semakin terlihat dalam tren digital marketing 2026. Perusahaan mulai menyadari bahwa audiens tidak lagi tertarik pada komunikasi brand yang terasa terlalu korporat. Sebaliknya, mereka lebih tertarik pada brand yang membuat mereka merasa lebih dekat, relatable, dan memiliki kepribadian.

Fenomena ini sering disebut sebagai humanizing brand dan authentic marketing, dua pendekatan yang semakin menjadi bagian penting dari marketing modern.

“Fenomena ini sebenarnya mencerminkan evolusi hubungan antara brand dan konsumen di era digital. Audiens saat ini tidak lagi melihat brand sebagai penyedia produk, tetapi sebagai entitas yang memiliki karakter dan nilai. Ketika brand mampu menunjukkan sisi manusia mereka, komunikasi menjadi lebih mudah diterima dan terasa lebih natural. Konsumen juga lebih terbuka untuk membangun koneksi dengan brand yang jujur dan transparan. Dalam banyak kasus, kedekatan emosional bahkan bisa menjadi faktor yang lebih kuat daripada produk itu sendiri. Karena itu, pendekatan seperti humanizing brand dan authentic marketing semakin relevan dalam strategi pemasaran saat ini.”

– Diego F Pattiselanno
Co-Founder Coulava Digital & Creative

Mari kita bedah fenomena pergeseran model marketing di 2026 ini ke arah yang lebih autentik dan ‘human’.

Daftar Isi

Ketika Audiens Tidak Lagi Percaya Marketing yang Terlalu Sempurna

Internet telah membuat orang sangat terbiasa dengan iklan. Setiap hari, mereka melihat ratusan bahkan ribuan konten promosi. Mulai dari banner, video ads, sponsored posts, sampai konten influencer. Akibatnya, konsumen semakin mudah mengenali pola komunikasi marketing. Mereka tahu kapan sebuah brand sedang mencoba menjual sesuatu.

Menariknya, semakin polished sebuah kampanye terlihat, semakin besar kemungkinan audiens merasa bahwa pesan tersebut terlalu dibuat-buat. Foto produk yang terlalu sempurna, video yang terlalu scripted, atau copywriting yang terlalu salesy seringkali membangkitkan perasaan ‘kurang autentik’ di mata audiens saat ini karena audiens modern justru lebih tertarik pada konten yang terlihat lebih natural yang ‘tidak sempurna’.

Inilah salah satu marketing changes yang paling kentara dalam beberapa tahun terakhir. Konsumen tidak lagi mencari brand yang terlihat sempurna. Mereka mencari brand yang ‘nyata’.

Brand Personality Mulai Menjadi Aset Marketing yang Penting

Salah satu hal yang semakin terlihat dalam tren humanizing brand adalah urgensi dari brand personality.

Kalau dulu brand dikenal terutama dari produk atau layanan yang mereka tawarkan, sekarang banyak brand dikenal dari cara mereka berbicara, berinteraksi, dan mengekspresikan diri di internet, alias personality mereka.

Beberapa brand memiliki personality yang playful dan penuh humor. Ada juga yang terlihat thoughtful, reflektif, atau bahkan sedikit self-aware tentang dunia marketing itu sendiri.

Kepribadian ini terlihat dari berbagai hal kecil:

  • cara brand menulis caption di media sosial
  • cara mereka merespon komentar audiens
  • gaya storytelling dalam konten
  • cara mereka berbicara tentang produk mereka sendiri

Di dunia sosial media marketing, personality menjadi salah satu ciri khas yang membuat sebuah brand mudah diingat.

Diego Pattiselanno, Co-founder Coulava pernah berkomentar tentang brand personality:
Saya melihat bahwa brand personality sekarang menjadi salah satu pembeda paling kuat di tengah persaingan digital. Bahkan saat ini, audiens tidak sesimpel mengikuti brand karena produknya, tetapi juga karena karakter yang ditampilkan brand tersebut. Ketika brand memiliki suara yang konsisten dan manusiawi, hubungan dengan audiens biasanya akan cenderung lebih kuat.

Audiens sekarang cenderung mengikuti suatu brand karena suara dan karakter brand tersebut.

Dari Pesan yang Dijual ke Cerita yang Dibagikan

Pendekatan marketing juga berubah. Kalau dulu brand cenderung fokus pada pesan yang ingin mereka sampaikan, sekarang banyak brand mulai lebih fokus pada cerita yang ingin mereka bagikan.

Inilah inti dari authentic marketing.

Alih-alih sekedar menjelaskan fitur produk, brand mulai menceritakan perjalanan mereka. Mereka berbagi cerita tentang bagaimana produk dibuat, bagaimana ide bisnis mereka muncul, atau bagaimana pelanggan menggunakan produk mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Cerita-cerita seperti ini lebih personal di mata audiens dan mereka cenderung lebih memilih model storytelling ini karena lebih jujur dan orisinil. Audiens merasa ‘diikutkan’, tidak hanya menerima pesan marketing saja. Mereka juga merasa ikut terlibat dalam perjalanan brand.

Dalam marketing modern, storytelling seperti ini sering terbukti jauh lebih efektif dibandingkan pesan promosi yang terlalu direct.

Emotional Value Menjadi Inti dari Marketing Modern

Perubahan lain yang semakin terlihat dalam tren digital marketing 2026 adalah pentingnya nilai emosional dalam komunikasi brand. Banyak brand kini mencoba menciptakan perasaan tertentu bagi audiens untuk meninggalkan kesan pada mereka.

Beberapa bentuk emotional value yang sering muncul dalam marketing modern:

1) Small Moments of Delight

Hal-hal kecil yang menyenangkan sering memiliki dampak besar.

Misalnya, brand yang memberikan respon lucu di kolom komentar, packaging yang memiliki pesan kecil yang menghibur, atau konten ringan yang membuat audiens tersenyum.

Momen kecil seperti ini sering disebut sebagai small moments of delight. Walaupun sederhana, pengalaman seperti ini bisa membuat brand terasa lebih manusiawi.

2) Familiarity

Banyak brand juga mencoba membangun rasa familiar dengan audiens. Mereka menggunakan bahasa yang lebih santai, membicarakan hal-hal sehari-hari, atau membuat konten yang relatable.

Ketika brand dibangun dengan dasar seperti “teman yang kita kenal”, interaksi dengan brand tersebut bisa jauh lebih natural.

3) Nostalgia

Nostalgia juga menjadi salah satu pendekatan yang cukup populer dalam marketing modern.

Beberapa brand menggunakan referensi budaya lama, estetika retro, atau cerita yang mengingatkan pada masa lalu. Nostalgia sering memicu emosi yang kuat dan membuat konten lebih bermakna.

4) Comfort Feeling

Di tengah dunia digital yang sangat cepat dan penuh distraksi, beberapa brand mencoba memberikan rasa nyaman kepada audiens. Konten yang menenangkan, visual yang hangat, atau storytelling yang reflektif bisa menciptakan perasaan aman dan akrab.

Catatan dari Diego Pattiselanno, Co-founder Coulava:
Pendekatan seperti ini sebenarnya adalah bagian dari upaya brand untuk membangun koneksi emosional yang lebih dalam. Humanizing brand diluar tentang gaya komunikasi, juga tentang bagaimana brand memahami emosi audiens dan menghadirkan pengalaman yang relevan dalam kehidupan sehari-hari.

Brand yang mampu menciptakan comfort feeling seringkali lebih mudah membangun hubungan jangka panjang dengan audiens.

Ketika Brand Menunjukkan Sisi Manusia Mereka

Salah satu bentuk paling jelas dari humanizing brand adalah ini: ketika brand mulai menunjukkan sisi manusia di balik bisnis mereka. Alih-alih tampil sebagai perusahaan yang jauh dan formal seperti marketing beberapa tahun lalu, brand mulai beralih menampilkan orang-orang di balik layar.

Beberapa contoh yang sering terlihat misalnya dalam sosial media marketing:

  1. founder story yang menceritakan perjalanan membangun bisnis
  2. konten behind the scenes dari proses produksi
  3. tim perusahaan yang muncul dalam konten brand
  4. cerita tentang tantangan atau kegagalan yang pernah dialami

Konten seperti ini membuat brand dianggap lebih nyata karena ada ‘manusia yang hidup dan terlihat’ di baliknya. Pandangan audiens berubah dari melihat brand sebagai entitas korporat yang abstrak, menjadi sekelompok manusia yang memiliki cerita.

Sosial Media Membuat Brand Lebih Fleksibel

Perubahan gaya komunikasi brand yang dibahas sebelumnya ini tidak bisa dilepaskan dari peran media sosial. Platform seperti TikTok, Instagram, dan berbagai platform lain membuat interaksi antara brand dan audiens menjadi lebih langsung. Komunikasi tidak lagi berjalan satu arah.

Audiens bisa memberikan komentar, mengajukan pertanyaan, atau bahkan mengkritik brand secara terbuka. Situasi ini membuat brand mau tidak mau menyesuaikan cara mereka berkomunikasi. Tone yang terlalu formal atau terlalu corporate sering dirasa tidak cocok dengan budaya platform digital karena terlalu kaku dan monoton.

Sebaliknya, brand yang mampu beradaptasi dengan gaya komunikasi yang lebih natural biasanya lebih mudah diterima oleh audiens. Audiens suka dengan brand yang menerima kritik dengan tangan terbuka dan mau mendengarkan mereka. Saran-saran yang membangun dari audiens juga bisa dimanfaatkan brand memperbaiki personality dan memajukan kualitasnya.

Inilah mengapa brand personality menjadi semakin penting dalam strategi sosial media marketing karena kecenderungan konsumen yang mulai berubah.

Ketika AI Marketing Semakin Besar, Authenticity Justru Semakin Dicari

Teknologi juga ikut mendorong perubahan ini. Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan AI dalam dunia marketing meningkat sangat cepat. AI dapat membantu membuat konten, menganalisis data audiens, hingga mengoptimalkan kampanye digital.

Namun di sisi lain, meningkatnya otomatisasi juga membuat banyak konten menjadi semakin generik.

Di tengah perkembangan teknologi ini, authentic marketing justru menjadi langka. Audiens mulai mencari konten yang terasa lebih manusia, lebih personal, dan lebih jujur.

Paradoksnya, semakin banyak konten yang dibuat dengan bantuan mesin, semakin tinggi pula nilai konten yang terasa benar-benar manusia, dan semakin berharga pula konten yang benar-benar punya campur tangan manusia di dalamnya.

Masa Depan Marketing Akan Terlihat Lebih Manusia?

Jika kita melihat arah tren digital marketing 2026, satu hal terlihat cukup jelas: marketing mungkin akan menjadi semakin manusiawi.

Brand akan semakin menonjolkan brand personality, memperkuat storytelling, dan menciptakan pengalaman emosional bagi audiens. Hubungan antara brand dan konsumen juga akan semakin menyerupai hubungan sosial. Audiens tidak hanya jadi customer, tetapi juga menjadi relasi dengan brand yang mereka sukai.

Faktanya sekarang, sudah semakin banyak partner bisnis yang bisa membantu kita berdiskusi dan memberikan insight untuk kemajuan humanizing brand & content. Salah satunya adalah layanan jasa digital marketing dari Coulava yang membantu brand membangun komunikasi autentik dan strategi pemasaran modern sesuai perubahan tren dan pola konsumen saat ini.

Ingin bekerja sama dengan Coulava? Hubungi kami sekarang!

Referensi

  1. https://www.linkedin.com/posts/current-consulting-marketing-agency_2026trends-digitalmarketing-changes-ugcPost-7442836780237619201-a1T1
  2. https://www.vogue.com/article/aerie-takes-a-stand-against-ai-marketing-with-pamela-anderson

Tentang Penulis

Azkiya Musfirah adalah SEO Copywriter di Coulava
yang fokus menulis konten berbasis keyword dan semantic intent.


Artikel ini ditinjau oleh Diego Pattiselanno Co-founder Coulava, praktisi digital sejak 2013 yang fokus pada optimasi bisnis. Berpengalaman di Branding, SEO, CRM & Performance Marketing. Terhubung dengan Diego di LinkedIn

Similar Posts