MarTech: Risiko Mengoptimalkan SEO untuk AI, Bukan Pengguna

MarTech menerbitkan opini Andrea Schultz pada 29 Oktober 2026 yang memperingatkan risiko mengoptimalkan SEO untuk AI dengan mengorbankan pengguna. Schultz, Director of SEO di Sure Oak, menyebut fokus pada visibilitas AI berisiko mengulang kesalahan lama SEO, yaitu mengejar sistem pencarian alih-alih manusia.

Ia menilai konten generik dapat melemahkan diferensiasi dan kepercayaan audiens. Tulisan ini adalah opini kontributor, dan MarTech menyatakan pandangan di dalamnya milik penulis sendiri.

Kami di Coulava Digital & Creative menilai opini ini relevan bagi tim SEO di Indonesia yang tergoda memproduksi banyak halaman dengan AI. Pertimbangkan bahwa isinya adalah pandangan kontributor, bukan pernyataan resmi Google. Sebagai langkah konkret, pilih lima artikel terbaikmu lalu tambahkan satu data, contoh, atau masukan pakar internal yang belum ada di hasil teratas.

Schultz mengingatkan bahwa SEO punya sejarah taktik jangka pendek, dari keyword stuffing, content farm, hingga link building skala besar. Ia mencatat Google terus menekankan konten yang bernilai bagi pengguna dan memperingatkan praktik scaled content abuse.

Disini akan kami jabarkan poin-poin utama dari tulisan MarTech tentang opini dari Andrea Schultz tersebut.

Daftar Isi

Peran Keahlian Manusia dalam SEO Berbantuan AI

Schultz mengutip riset Graphite yang menemukan 86% halaman berperingkat tinggi di Google Search ditulis manusia, dibanding 14% yang dibuat AI. Halaman buatan AI juga cenderung berperingkat lebih rendah daripada konten tulisan manusia.

Ia juga mengutip riset iPullRank: saat bukti dihapus dari skenario SEO nyata, banyak model AI tetap memberi diagnosis dengan percaya diri. Menurut Schultz, AI cocok untuk riset, brief, dan transkripsi, sementara substansinya datang dari pakar manusia.

Schultz menyebut halaman yang unggul biasanya memuat pengalaman orisinal, wawasan industri yang unik, opini, data milik sendiri, analisis pakar, dan kasus penggunaan nyata.

Empat Alasan Orisinalitas Makin Penting

Pertama, algoritma dibangun untuk menyaring konten serupa, dan konten yang bisa diringkas dari lima hasil teratas sudah berada di posisi kalah. Kedua, sistem AI tidak perlu mengutip pengetahuan umum, sehingga konten yang hanya mengulang informasi lama kecil peluang disitasi.

Ketiga, Schultz percaya ekonomi klik tidak hilang melainkan berubah, karena orang yang mendekati keputusan butuh konteks dan contoh nyata. Keempat, menurut Gartner 65% konsumen merasa merek terlalu banyak membuat konten AI dan 57% menjadi kurang percaya pada pesan merek.

Schultz juga mengutip Harris Poll yang dipresentasikan Quad, dengan 80% warga Amerika menyatakan merek yang terasa manusiawi dan tidak sempurna lebih membuat mereka bertahan dibanding kesempurnaan buatan AI.

Human-first SEO dengan Empat Pilar

Schultz memperkenalkan human-first SEO yang bertumpu pada experience, opinion, proof, dan identity. Artinya konten memuat pengalaman langsung, sudut pandang, bukti seperti data orisinal, dan pakar nyata yang ditonjolkan.

Ia menyebut keempat pilar ini sejalan dengan yang didorong Google selama bertahun-tahun dan kini ada dalam panduan optimasi AI Google. Ia pun mengajak berhenti mengejar setiap trik baru berlabel GEO, AEO, atau AIO.

Menurut Schultz, jika konten bisa dibuat AI dari halaman berperingkat teratas, risikonya adalah tidak muncul sama sekali. Ia menyarankan review kualitas konten sebagai langkah pertama.

Contoh Kasus: Ratusan Panduan AI yang Akhirnya Dihapus

Schultz bercerita bahwa ia dan klien pemasok B2B melihat kompetitor menerbitkan lebih dari 300 panduan how-to buatan AI dalam beberapa bulan. Visibilitas awalnya naik, lalu sitasi dan peringkat turun, dan dalam enam bulan kompetitor itu menghapus semua konten AI-nya.

Ia juga menyarankan menulis ulang deskripsi produk pabrikan dengan tanya jawab pelanggan, hasil uji sendiri, dan perbandingan. Untuk konten how-to dan what is, ia mendorong sumber insight dari tim produk dan customer success.

Schultz menambahkan bahwa pesaing dan situs lain bisa membuat konten serupa semudah itu. Tim yang berinvestasi pada review pakar, insight SME, dan data unik lebih mungkin mempertahankan visibilitasnya.

Checklist Human-first SEO dari Schultz

Schultz menutup dengan menyebut kecepatan tidak lagi menjadi keunggulan saat semua orang bisa membuat konten lebih cepat. Menurutnya keberhasilan SEO ditentukan oleh siapa yang tetap terasa manusiawi, bukan siapa yang paling banyak memakai AI.

Checklist Schultz mencakup review kualitas konten, alur kerja yang memakai AI untuk transkripsi dan outline, serta kehadiran pakar di luar situs. Ia juga mengusulkan KPI berupa share of voice, branded search, dan sitasi.

  • Investasi pada data orisinal, seperti survei sendiri atau dataset internal.
  • Menonjolkan pakar lewat byline, bio, aktivitas LinkedIn, podcast, tulisan tamu, dan konferensi.

Ingin Strategi SEO yang Lebih Tepat Sasaran?
Coulava Digital & Creative membantu bisnis melakukan keyword research, analisis search intent, content planning, dan optimasi SEO yang berorientasi pada pertumbuhan traffic organik serta performa bisnis jangka panjang. Kunjungi layanan SEO Coulava untuk informasi lebih lanjut.

Lihat juga layanan Coulava yang lainnya yang mungkin cocok untuk kamu, atau lihat gallery project kami. Hubungi Coulava untuk konsultasi gratis!


Tentang Penulis

Azkiya Musfirah adalah SEO Copywriter di Coulava
yang fokus menulis konten berbasis keyword dan semantic intent.


Artikel ini ditinjau oleh Diego Pattiselanno Co-founder Coulava, praktisi digital sejak 2013 yang fokus pada optimasi bisnis. Berpengalaman di Branding, SEO, CRM & Performance Marketing. Terhubung dengan Diego di LinkedIn

Sumber referensi: martech.org

Catatan editorial: Artikel ini ditulis ulang sebagai konten original berbahasa Indonesia berdasarkan fakta dari sumber referensi luar negeri.

Similar Posts