Agensi Digital Mulai Bangun Kemampuan Baru, dari AI Visibility hingga Produksi Video Virtual
Perubahan cara orang mencari informasi membuat kebutuhan layanan agensi ikut bergerak. Dalam artikel Forbes Agency Council tertanggal 21 Oktober 2026, sejumlah anggota komunitas tersebut menjelaskan kemampuan strategis yang sedang mereka kembangkan untuk menjawab tuntutan klien, mulai dari visibilitas di pencarian berbasis AI sampai pengalaman digital interaktif.
Para kontributor tidak hanya membahas teknologi. Mereka juga menyoroti pengukuran dampak komunikasi, pelatihan tim, kepatuhan aksesibilitas dan pelacakan data, serta proses persetujuan materi kreatif yang lebih cepat. Daftar itu menunjukkan bahwa pengembangan agensi tidak bisa hanya bergantung pada penambahan satu tools baru.
Menurut Coulava Digital & Creative, agensi perlu menilai kemampuan baru berdasarkan masalah nyata klien dan kemampuan tim menjalankannya. Artikel ini akan membahas arah investasi yang disebut dalam Forbes, alasan pergeserannya, dan pelajaran praktis bagi brand serta agensi digital.
Daftar Isi
- Mengapa Layanan Agensi Perlu Beradaptasi? >
- Kemampuan Apa yang Menjadi Fokus Pengembangan Agensi? >
- Mengapa AI Visibility dan GEO Mulai Diprioritaskan? >
- Apa Peran Video, Komunitas, dan Pengalaman Interaktif? >
- Bagaimana Agensi Memilih Investasi yang Tepat? >
- Apa Tantangan saat Agensi Mengadopsi Layanan Baru? >
- Apa Insight Coulava untuk Brand dan Agensi? >
- Apa Kesimpulan Utamanya? >
Mengapa Layanan Agensi Perlu Beradaptasi?
Ketika audiens menemukan brand melalui mesin pencari, platform sosial, video, komunitas, dan jawaban AI, keberhasilan kampanye tidak lagi bisa dinilai hanya dari satu posisi keyword. Forbes mencatat bahwa tekanan untuk menunjukkan manfaat nyata pemasaran mendorong agensi mempertimbangkan keahlian yang lebih luas.
Perubahan ini tidak otomatis membuat SEO, iklan digital, atau produksi konten konvensional menjadi usang. Justru, layanan lama perlu terhubung dengan strategi distribusi dan pengukuran yang lebih sesuai dengan perjalanan pelanggan.
Bagi pemilik bisnis, konsekuensinya adalah perlunya diskusi yang lebih spesifik dengan mitra agensi: masalah apa yang hendak diselesaikan, kanal mana yang relevan, dan indikator apa yang digunakan untuk menilai hasil.
Kemampuan Apa yang Menjadi Fokus Pengembangan Agensi?
| Bidang | Contoh kemampuan | Tujuan |
|---|---|---|
| AI visibility | Audit representasi brand dan sitasi AI | Memahami peluang ditemukan dan direkomendasikan |
| Search everywhere | Strategi lintas pencarian dan komunitas | Menjangkau audiens di banyak titik penemuan |
| Produksi kreatif | Video virtual dan pengalaman interaktif | Meningkatkan variasi serta pengalaman audiens |
| Data dan kepatuhan | Orkestrasi identitas, aksesibilitas, tracking | Meningkatkan relevansi dan menjaga tata kelola |
Mengapa AI Visibility dan GEO Mulai Diprioritaskan?
Dalam artikel Forbes, Uri Samet dari Buzz Dealer membahas audit tentang bagaimana brand disebut, dikutip, dan digambarkan oleh mesin jawaban AI. Parry Headrick dari Crackle PR juga menyoroti pengukuran proporsi sitasi AI dan perlunya menguji sinyal yang benar-benar berpengaruh.
Sementara itu, Nital Shah dari Mavlers Agency menekankan pengembangan layanan Answer Engine Optimization (AEO) dan Generative Engine Optimization (GEO), termasuk pengemasan layanan serta edukasi kepada klien. Ini merupakan perspektif para praktisi yang dikutip Forbes, bukan jaminan satu teknik akan bekerja sama pada semua platform.
Artinya, brand perlu memperhatikan kualitas informasi yang dapat ditemukan publik. Konten yang jelas, sumber yang dapat diverifikasi, dan penyebutan yang konsisten di berbagai kanal dapat menjadi dasar evaluasi, sambil tetap mengukur trafik dan konversi yang relevan.
Apa Peran Video, Komunitas, dan Pengalaman Interaktif?
Beberapa kemampuan berikut menunjukkan bagaimana agensi memperluas cara berinteraksi dengan audiens.
- Video berbasis pertanyaan audiens. Chloe Cerami dari Faceplant LLC menyoroti konten video yang menjawab pertanyaan pembeli serta strategi komunitas Reddit.
- Virtual video production. Stephen Rosa dari (add)ventures menjelaskan potensi produksi berbasis studio virtual ketika lokasi asli sulit atau tidak praktis digunakan.
- Pengalaman interaktif. Jordan Edelson dari Appetizer Mobile menilai augmented reality dan pengalaman digital partisipatif dapat memperkuat interaksi brand.
- Komunikasi influencer. Salah satu kontributor, Nancy Marshall, menyebut peningkatan keahlian influencer marketing sebagai fokus timnya.
- Edukasi langsung. Kim Lawton dari Enthuse Marketing membahas tim lapangan yang membantu pelanggan memahami kategori produk, bukan sekadar menjual.
Kemampuan ini perlu dipilih berdasarkan kebutuhan audiens, bukan sekadar tren teknologi.
Bagaimana Agensi Memilih Investasi yang Tepat?
Agar investasi kemampuan baru tetap relevan, agensi dapat mempertimbangkan tahapan berikut.
- Pemetaan kebutuhan klien. Cari masalah yang berulang: sulit ditemukan, produksi lambat, data terpecah, atau laporan dampak kurang jelas.
- Audit kemampuan internal. Bedakan keahlian yang sudah siap dijual dengan kemampuan yang masih perlu diuji melalui proyek kecil.
- Tetapkan ukuran keberhasilan. Gunakan metrik sesuai tujuan, misalnya keterlibatan berkualitas, permintaan penawaran, visibilitas brand, atau efisiensi produksi.
- Periksa aspek operasional. Investasi baru memerlukan SOP, tanggung jawab pengawasan, perlindungan data, dan proses evaluasi.
- Bangun kompetensi tim. Sejalan dengan pandangan Dani Mariano dari Razorfish, tools baru akan lebih berguna jika didampingi kemampuan analisis dan pemecahan masalah.
Prioritas yang jelas membantu pengembangan layanan berlangsung bertahap dan terukur.
Apa Tantangan saat Agensi Mengadopsi Layanan Baru?
Menawarkan teknologi yang sedang populer tanpa kejelasan kebutuhan klien bisa membuat portofolio terlihat luas tetapi sulit dijalankan. Karena itu, setiap layanan baru membutuhkan definisi ruang lingkup, batas pekerjaan, dan hasil yang realistis.
Forbes juga memuat pandangan tentang kepatuhan aksesibilitas dan pelacakan data, serta kebutuhan mempercepat persetujuan materi kreatif pada industri yang memiliki aturan ketat. Dua isu ini menunjukkan bahwa kualitas agensi tidak hanya diukur dari ide kreatif, tetapi juga dari ketelitian pelaksanaannya.
Perusahaan juga perlu berhati-hati saat membandingkan metrik dari platform berbeda. Jumlah penyebutan dalam jawaban AI, tayangan video, atau klik iklan belum otomatis menunjukkan pertumbuhan penjualan.
Apa Insight Coulava untuk Brand dan Agensi?
Menurut Coulava, pendekatan yang paling masuk akal adalah membangun kemampuan baru secara bertahap dan menghubungkannya dengan layanan inti. Tim SEO dapat bekerja bersama tim konten, video production, dan social media untuk menjawab kebutuhan audiens dari berbagai kanal.
Dalam penerapannya, eksperimen kecil akan membantu menemukan format konten, alur kerja, dan indikator pelaporan yang paling relevan. Pelajaran dari eksperimen kemudian bisa dijadikan layanan yang lebih matang, bukan langsung dijanjikan sebagai hasil pasti.
Dalam praktiknya, langkah tersebut perlu disesuaikan dengan ukuran tim dan kebutuhan pelanggan. Organisasi dapat memulai dari satu kanal yang paling aktif, mendokumentasikan temuan, lalu memperluas penerapan setelah hasilnya dinilai. Dengan begitu, perubahan tidak berhenti sebagai ide, melainkan menjadi proses kerja yang bisa dipantau.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah konsistensi antara janji dalam komunikasi dan pengalaman pelanggan. Pesan yang menarik tidak akan banyak membantu jika informasi sulit ditemukan atau layanan tidak sesuai harapan. Karena itu, kualitas konten sebaiknya ditinjau bersama kejelasan informasi, proses persetujuan, dan umpan balik yang masuk.
Sebelum diterapkan secara luas, tim sebaiknya menyiapkan contoh yang mewakili situasi berbeda. Uji pembaca internal dan masukan pelanggan bisa membantu mengungkap pesan yang masih membingungkan. Perbaikan kecil yang dilakukan rutin sering lebih realistis daripada mengubah semua materi dalam satu waktu.
AI dapat mendukung riset dan efisiensi, tetapi strategi, kreativitas, serta tanggung jawab terhadap kualitas komunikasi tetap perlu dikelola manusia.
Apa Kesimpulan Utamanya?
Artikel Forbes Agency Council memperlihatkan beragam investasi kemampuan yang sedang dipertimbangkan praktisi agensi: AI visibility, GEO, komunitas, video virtual, pengalaman interaktif, data, sampai pengembangan talenta.
Bagi brand, pesan utamanya bukan harus memakai seluruh layanan sekaligus, melainkan memilih mitra yang memahami tujuan bisnis dan mampu menjelaskan nilai dari setiap aktivitas pemasaran.
Ingin Strategi Digital yang Lebih Terintegrasi?
Coulava Digital & Creative membantu bisnis menghubungkan kebutuhan branding, SEO, social media, dan produksi konten dalam strategi yang lebih terarah. Konsultasi SEO dengan Coulava untuk informasi lebih lanjut.
Lihat juga layanan kami yang lainnya, atau lihat gallery project Coulava. Diskusikan kebutuhan digital marketing brand bersama Coulava.
Tentang Penulis

Azkiya Musfirah adalah SEO Copywriter di Coulava
yang fokus menulis konten berbasis keyword dan semantic intent.

Artikel ini ditinjau oleh Diego Pattiselanno Co-founder Coulava, praktisi digital sejak 2013 yang fokus pada optimasi bisnis. Berpengalaman di Branding, SEO, CRM & Performance Marketing. Terhubung dengan Diego di LinkedIn
Sumber referensi: forbes.com
Catatan editorial: Artikel ini ditulis ulang sebagai konten original berbahasa Indonesia berdasarkan fakta dari sumber referensi luar negeri.
