Cara Cek Schema Markup Website: Apakah Structured Data Sudah Terbaca Google?
Cara cek schema markup website adalah dengan menggunakan tools seperti Google Rich Results Test atau Schema Markup Validator untuk memvalidasi structured data yang terpasang pada halaman website. Dalam hitungan detik, kamu bisa mengetahui apakah schema sudah terbaca Google, apakah terdapat error, dan apakah halaman berpeluang menampilkan rich results di hasil pencarian.
Banyak pemilik website sudah memasang schema melalui plugin SEO atau kode manual, tetapi belum pernah memeriksa apakah implementasinya benar-benar valid. Padahal, kesalahan kecil pada structured data dapat membuat Google gagal memahami informasi penting yang ingin ditampilkan di mesin pencari.
“Banyak website sebenarnya sudah memiliki schema markup tanpa disadari karena dibuat otomatis oleh plugin SEO. Namun, keberadaan schema saja belum cukup untuk membantu Google memahami halaman secara optimal. Validasi secara berkala menjadi langkah yang sering terlewat dalam proses technical SEO. Error kecil pada structured data dapat bertahan berbulan-bulan jika tidak pernah diperiksa. Karena itu, audit schema perlu menjadi bagian dari rutinitas pemeliharaan website. Semakin cepat error ditemukan, semakin mudah proses perbaikannya sebelum berdampak pada visibilitas pencarian.”
– Diego F Pattiselanno
Co-Founder Coulava Digital & Creative
Artikel ini akan membahas bagaimana cara cek schema markup/structured data lengkap dengan tools gratis yang bisa langsung dipraktikkan oleh kamu dalam mengoptimasi halaman website dan artikelnya.
Daftar Isi
- Apa Itu Schema Markup? >
- Jenis Schema Markup Apa yang Paling Sering Digunakan? >
- Bagaimana Cara Cek Schema Markup Website? >
- Tools Gratis Apa Saja untuk Cek Schema Markup? >
- Bagaimana Cara Membaca Hasil Schema Markup Test? >
- Apa Perbedaan Error dan Warning pada Schema Markup? >
- Kenapa Schema Markup Tidak Terdeteksi atau Tidak Valid? >
- Bagaimana Cara Memperbaiki Schema Markup yang Error? >
- Kesimpulan >
Apa Itu Schema Markup?
Schema markup adalah kode structured data yang digunakan untuk memberikan informasi tambahan kepada mesin pencari mengenai isi suatu halaman website.
Saat Google mengunjungi sebuah halaman, mesin pencari akan membaca teks, gambar, tautan, dan elemen lain yang tersedia. Schema markup berfungsi sebagai “petunjuk tambahan” yang membantu Google memahami konteks informasi secara lebih spesifik.
Misalnya, halaman yang berisi artikel dapat menggunakan schema Article. Halaman bisnis lokal dapat menggunakan schema Local Business. Produk e-commerce dapat menggunakan schema Product. Dengan informasi tambahan tersebut, Google dapat mengelompokkan dan memahami konten dengan lebih akurat.
Saat ini, format schema yang paling direkomendasikan adalah JSON-LD karena lebih mudah diimplementasikan dan didukung langsung oleh Google.
Jenis Schema Markup Apa yang Paling Sering Digunakan?
Jenis schema yang digunakan biasanya bergantung pada tujuan halaman website. Berikut beberapa schema yang paling umum ditemukan.
| Jenis Schema | Fungsi |
|---|---|
| Organization | Menjelaskan informasi perusahaan |
| Article | Menjelaskan konten artikel |
| FAQ | Menampilkan daftar pertanyaan dan jawaban |
| Product | Menjelaskan informasi produk |
| Breadcrumb | Menunjukkan struktur navigasi |
| Local Business | Menjelaskan informasi bisnis lokal |
Schema Organization sering digunakan pada homepage perusahaan. Schema Article banyak diterapkan pada blog. Sementara itu, website bisnis lokal umumnya menggunakan Local Business untuk membantu Google memahami informasi lokasi, kontak, dan layanan yang ditawarkan.
Pemilihan schema yang tepat membantu mesin pencari memahami tujuan halaman secara lebih jelas.
Bagaimana Cara Cek Schema Markup Website?
Cara cek schema markup website dapat dilakukan menggunakan Google Rich Results Test dengan memasukkan URL halaman yang ingin diperiksa dan melihat apakah structured data berhasil terdeteksi oleh Google.
Langkah-langkahnya cukup sederhana:
- Buka Google Rich Results Test.
- Masukkan URL halaman yang ingin diperiksa.
- Klik tombol “Test URL”.
- Tunggu proses analisis selesai.
- Lihat schema yang berhasil dideteksi.
- Periksa error atau warning yang muncul.
- Cek apakah halaman memenuhi syarat rich results.
Kamu dapat mengakses tools tersebut melalui Google Rich Results Test:
https://search.google.com/test/rich-results
Setelah proses selesai, Google akan menampilkan informasi mengenai jenis schema yang ditemukan pada halaman. Jika semuanya berjalan baik, hasil validasi akan menunjukkan status valid.
Selain mengecek apakah schema ada atau tidak, tools ini juga membantu mengetahui apakah schema tersebut memenuhi persyaratan rich results.
Pro Tip dari Diego Pattiselanno, Co-founder Coulava:
“Banyak website terlihat baik-baik saja dari sisi tampilan, tetapi ternyata schema-nya error karena update plugin atau perubahan template. Karena itu, lakukan validasi schema setiap kali ada perubahan besar pada website.“
Tools Gratis Apa Saja untuk Cek Schema Markup?
Tools gratis untuk cek schema markup meliputi Google Rich Results Test, Schema Markup Validator, dan Google Search Console. Setiap tools memiliki fungsi yang sedikit berbeda sehingga sering digunakan secara bersamaan.
Google Rich Results Test
Google Rich Results Test menjadi pilihan utama karena menggunakan standar yang sama dengan Google Search.
Tools ini dapat menunjukkan:
- Jenis schema yang ditemukan
- Status validasi
- Error dan warning
- Kelayakan rich results
Kamu dapat mengakses tools tersebut melalui:
https://search.google.com/test/rich-results
Schema Markup Validator
Schema Markup Validator berguna untuk memvalidasi struktur schema secara teknis.
Kamu dapat mengaksesnya melalui Schema Markup Validator:
https://validator.schema.org/
Validator ini sering digunakan saat melakukan pengecekan kode JSON-LD secara mendetail.
Google Search Console
Google Search Console dapat membantu memantau schema secara berkelanjutan.
Melalui laporan Enhancement, kamu dapat melihat:
- Schema yang aktif
- Error yang ditemukan Google
- Halaman yang valid
- Riwayat perbaikan schema
Google Search Console dapat diakses melalui:
https://search.google.com/search-console
Ketiga tools tersebut sudah cukup untuk melakukan cara validasi schema markup tanpa biaya tambahan.
Bagaimana Cara Membaca Hasil Schema Markup Test?
Hasil schema markup test dapat dibaca dengan melihat jenis schema yang terdeteksi, status validasi, serta error dan warning yang ditemukan selama proses pemeriksaan.
Saat membuka hasil validasi, biasanya terdapat beberapa status yang perlu dipahami.
Valid
Status valid menunjukkan bahwa schema berhasil dibaca dan memenuhi persyaratan dasar yang ditetapkan Google.
Warning
Warning menunjukkan ada informasi tambahan yang dapat dilengkapi untuk meningkatkan kualitas schema. Schema masih dapat berfungsi meskipun terdapat warning.
Error
Error menunjukkan adanya masalah yang membuat schema tidak valid atau tidak dapat diproses secara sempurna. Masalah ini perlu segera diperbaiki agar structured data dapat digunakan dengan baik.
Eligible for Rich Results
Status ini menunjukkan halaman berpotensi menampilkan rich results pada hasil pencarian.
Not Eligible
Status ini menunjukkan ada persyaratan yang belum terpenuhi sehingga rich results belum dapat digunakan. Memahami perbedaan status tersebut akan membantu proses audit berjalan lebih efektif.
Apa Perbedaan Error dan Warning pada Schema Markup?
Error menunjukkan masalah yang membuat schema tidak valid, sedangkan warning menunjukkan informasi tambahan yang sebaiknya dilengkapi agar schema lebih optimal.
Perbedaan ini sering membuat pemilik website bingung saat melihat laporan validasi.
Contoh error yang umum ditemukan:
Contoh warning yang umum ditemukan:
Error biasanya perlu diselesaikan terlebih dahulu karena dapat memengaruhi validitas schema secara langsung.
Catatan dari Diego Pattiselanno, Co-founder Coulava:
“Saat melakukan audit schema, prioritaskan seluruh error sebelum berfokus pada warning. Langkah ini membantu mempercepat proses validasi dan membuat hasil audit lebih terstruktur.“
Kenapa Schema Markup Tidak Terdeteksi atau Tidak Valid?
Schema markup yang tidak terdeteksi biasanya disebabkan oleh kesalahan format, properti wajib yang belum lengkap, atau implementasi structured data yang tidak sesuai pedoman Google.
Masalah ini cukup sering ditemukan pada website yang menggunakan plugin otomatis maupun implementasi manual. Beberapa penyebab yang umum antara lain:
Ketika Google menemukan struktur data yang tidak sesuai, sistem dapat mengabaikan schema tersebut meskipun kode sudah tertanam di halaman.
Karena itu, proses validasi menjadi bagian penting dari cara mengetahui schema markup sudah terbaca Google.
Bagaimana Cara Memperbaiki Schema Markup yang Error?
Schema markup yang error dapat diperbaiki dengan menemukan sumber masalah, memperbaiki properti yang bermasalah, lalu melakukan validasi ulang menggunakan tools Google.
1) Identifikasi Error yang Muncul pada Hasil Validasi
Langkah pertama adalah memahami jenis error yang ditemukan oleh Google Rich Results Test atau Schema Markup Validator. Setiap error biasanya disertai informasi mengenai properti yang bermasalah atau bagian schema yang perlu diperbaiki.
Jangan langsung mengubah kode tanpa memahami penyebab error karena satu masalah dapat memengaruhi beberapa bagian schema sekaligus.
2) Temukan Bagian Schema yang Bermasalah
Setelah mengetahui jenis error, cari lokasi schema yang memicu masalah tersebut. Jika website menggunakan plugin SEO, periksa pengaturan schema yang tersedia. Jika schema dibuat secara manual, periksa kode JSON-LD pada halaman terkait.
Menemukan sumber masalah lebih awal dapat mempercepat proses perbaikan dan mengurangi risiko kesalahan tambahan.
3) Lengkapi Properti Wajib yang Hilang
Banyak error terjadi karena adanya properti wajib yang belum diisi. Misalnya schema Article sering memerlukan informasi seperti headline, author, atau datePublished agar dapat dianggap valid oleh Google.
Perhatikan pesan error yang muncul karena biasanya Google sudah menunjukkan properti mana yang perlu dilengkapi.
4) Perbaiki Kesalahan Sintaks JSON-LD
Kesalahan penulisan kode seperti tanda koma yang hilang, tanda kutip yang tidak lengkap, atau struktur JSON yang tidak sesuai dapat membuat schema gagal diproses.
Jika menggunakan schema manual, lakukan pengecekan dengan teliti pada setiap elemen kode sebelum melakukan validasi ulang.
5) Sesuaikan Schema dengan Isi Halaman
Google mengharapkan informasi pada schema sesuai dengan konten yang benar-benar ditampilkan kepada pengguna. Misalnya, schema FAQ sebaiknya digunakan pada halaman yang memang memiliki daftar pertanyaan dan jawaban.
Ketidaksesuaian antara schema dan isi halaman dapat menyebabkan structured data diabaikan atau dianggap tidak memenuhi pedoman Google.
6) Jalankan Validasi Ulang
Setelah seluruh perbaikan selesai dilakukan, masukkan kembali URL halaman ke Google Rich Results Test atau Schema Markup Validator. Langkah ini penting untuk memastikan seluruh error telah terselesaikan.
Validasi ulang juga membantu menemukan masalah lain yang sebelumnya tertutupi oleh error utama.
7) Periksa Kembali Melalui Google Search Console
Google Search Console dapat digunakan untuk memantau status schema setelah perbaikan diterapkan. Pada beberapa kasus, Google memerlukan waktu untuk memproses ulang halaman dan memperbarui laporan yang tersedia.
Perhatikan bagian Enhancements untuk melihat apakah jumlah error berkurang atau seluruh schema sudah berstatus valid.
Pengingat dari Diego Pattiselanno, Co-founder Coulava:
“Biasakan melakukan validasi ulang setelah setiap perubahan schema. Langkah sederhana ini sering kali mencegah error bertahan terlalu lama tanpa disadari.“
Proses perbaikan menjadi cukup sederhana jika sumber error sudah diketahui. Banyak kasus hanya memerlukan penambahan properti tertentu atau perbaikan format penulisan. Setelah melakukan perubahan, selalu lakukan validasi ulang untuk memastikan masalah benar-benar terselesaikan.
Kesimpulan
Cara cek schema markup website dapat dilakukan menggunakan Google Rich Results Test, Schema Markup Validator, dan Google Search Console. Ketiga tools tersebut membantu memastikan bahwa schema markup website sudah terbaca dengan baik, bebas dari error, dan memenuhi persyaratan yang diperlukan Google.
Melakukan cara cek structured data website secara berkala membantu menjaga kualitas technical SEO dan mempermudah mesin pencari memahami isi website secara lebih akurat. Semakin baik implementasi structured data, semakin mudah Google menginterpretasikan informasi yang kamu sajikan.
Tingkatkan Kualitas Technical SEO Bersama Coulava
Schema markup hanyalah salah satu bagian dari technical SEO yang perlu dipantau secara rutin. Jika kamu ingin memastikan website memiliki struktur teknis yang sehat, bebas error, dan siap bersaing di hasil pencarian, tim Coulava Digital & Creative siap membantu melalui audit SEO menyeluruh, analisis technical SEO, serta optimasi website yang berorientasi pada pertumbuhan bisnis jangka panjang dengan jasa SEO terpercaya.
Hubungi Coulava sekarang!
Tentang Penulis

Azkiya Musfirah adalah SEO Copywriter di Coulava
yang fokus menulis konten berbasis keyword dan semantic intent.

Artikel ini ditinjau oleh Diego Pattiselanno Co-founder Coulava, praktisi digital sejak 2013 yang fokus pada optimasi bisnis. Berpengalaman di Branding, SEO, CRM & Performance Marketing. Terhubung dengan Diego di LinkedIn
